Menu

Mode Gelap
Kapan Musim Kemarau 2024? Begini Penjelasan BMKG Kota Semarang Dikepung Banjir Suhartoyo Terpilih Menjadi Ketua Makhamah Konstitusi 2023-2028 Bawaslu: Empat Kabupaten dan Kota di Papua Rawan Tinggi Dalam Pemilu 2024 GBT Siap Gelar Piala Dunia U-17

Ekonomi · 28 Jul 2022 08:00 WIB ·

Tren Positif Ekonomi Domestik di Tengah Dinamika Perekonomian Global


 Tren Positif Ekonomi Domestik di Tengah Dinamika Perekonomian Global. (Foto: Setkab) Perbesar

Tren Positif Ekonomi Domestik di Tengah Dinamika Perekonomian Global. (Foto: Setkab)

JURNALPOST, Jakarta – Kasus harian COVID-19 global dan domestik mulai kembali meningkat akibat penyebaran varian baru. Meski tidak memberikan tekanan pada sistem kesehatan, namun perlu diantisipasi dengan melakukan akselerasi vaksinasi.

Di Indonesia, sampai dengan 25 Juli 2022, vaksin COVID-19 telah diberikan kepada 202,22 juta masyarakat (74,8% populasi) untuk dosis 1, dan 169,84 juta masyarakat (62,9%) untuk dosis 2. Sedangkan untuk vaksin booster sebanyak 54,68 juta masyarakat (20,2% populasi).

Sementara itu, tantangan dan risiko global bergeser ke peningkatan inflasi dan pengetatan kebijakan moneter serta likuiditas. Tingginya tekanan inflasi mendorong percepatan pengetatan kebijakan moneter, khususnya di AS.

Tekanan inflasi global yang masih terus berlanjut mendorong kenaikan suku bunga di banyak negara serta berpotensi mendorong peningkatan cost of fund, termasuk di Indonesia.

Sinyal pelemahan global juga nampak dari perlambatan PMI manufaktur karena adanya penurunan demand dan confidence, tekanan harga, dan berlanjutnya supply disruption.

Dalam keterangan persnya, pihak Kementerian Keuangan juga menilai bahwa naiknya volatilitas tersebut diiringi tren pelemahan global yang meningkatkan potensi risiko resesi di banyak negara, termasuk AS dan Tiongkok yang mengalami perlambatan tajam aktivitas ekonomi.

Survei Bloomberg pada 15 Juli 2022 menunjukkan potensi resesi di Sri Lanka sebesar 85%, AS 40%, dan China 20%, sedangkan Indonesia hanya 3%, jauh lebih kecil dibandingkan ketiga negara sebelumnya.

WEO IMF pada Juli 2022 merevisi ke bawah pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,2% pada 2022 dan 2,9% 2023 masing-masing menurun sebesar 0,4 dan 0,7 poin dari proyeksi sebelumnya pada April lalu.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi AS diproyeksikan sebesar 2,3% pada 2022 dan 1,0% pada 2023; Tiongkok sebesar 3,3% pada 2022 dan 4,6% pada 2023, serta Indonesia sebesar 5,3% pada 2022 dan 5,2% pada 2023.

Mengenai situasi perekonomian domestik, Kemenkeu mengklaim bahwa pemulihan ekonomi berjalan baik. Namun risiko global khususnya inflasi dan potensi resesi negara maju harus diwaspadai.

Lebih lanjut dikatakan, posisi Indonesia relatif lebih aman dibandingkan beberapa negara, dilihat dari tingkat risiko kredit dan rasio utang Indonesia yang relatif lebih rendah. Volatilitas global berdampak pada tekanan inflasi domestik dan pasar obligasi Indonesia, meski dampaknya terbatas didukung likuiditas domestik yang kuat.

Selanjutnya, aktivitas masyarakat sudah kembali normal dan mendorong kegiatan ekonomi. Diikuti mobilitas masyarakat di kuartal II yang mengalami peningkatan signifikan karena periode libur.

Kinerja APBN hingga bulan Juni kembali mencatatkan surplus ditopang kinerja pendapatan yang tumbuh di semua komponen.

“Kita akan terus menjaga kesehatan APBN dari guncangan-guncangan yang makin kuat dari luar negeri. Maka kita harus membuat agar APBN kita tetap sehat, sehingga dia bisa melindungi masyarakat dan perekonomian kita,” ungkap Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat konferensi pers APBN KiTa Edisi Juli 2022.

Baca juga:
Perekonomian Domestik Berjalan Baik Namun Perlu Mewaspadai Risiko Global
Pembiayaan APBN Mengantisipasi Dinamika Pasar Keuangan yang Volatile

Sementara itu, APBN bekerja keras melalui Belanja Negara untuk mendukung program pemulihan ekonomi dan menjaga dampak adanya ketidakpastian. Outlook defisit APBN 2022 turun dari 4,85% PDB (APBN) menjadi 3,92% PDB.

Peran APBN sebagai shock absorber perlu dijaga agar berfungsi optimal, namun dengan tetap memperhatikan kesehatan dan kredibilitas APBN. Demikian disampaikan dalam publikasi APBN Kita edisi Juli 2022.

Penulis: Micky Wijaya
Editor: Djali Achmad

 

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Gaji 5 Juta Kini Kena Pajak?

3 Januari 2023 - 07:14 WIB

Gaji 5 Juta Kini Kena Pajak?

Menko Luhut: Penggunaan Sistim Digitalisasi Pelabuhan Indonesia Akan Lebih Efesien dan Hindari Korupsi

28 Desember 2022 - 14:34 WIB

Digitalisasi Pelabuhan

Dukung Pengembangan Electric Vehicle, Menko Airlangga Dorong Investasi Sektor Industri Otomotif

27 Desember 2022 - 15:56 WIB

Menko Airlangga

Kabupaten Kudus Gelar UMKM Expo Guna Dongkrak Pengembangan Ekonomi Kreatif

19 Desember 2022 - 07:10 WIB

UMKM Ecoprint

Pelaku Usaha IKM Gunungsitoli Dilatih Membuat Keripik Gamumu

12 Desember 2022 - 16:19 WIB

Kripik Gamumu

Citi Bersama Home Credit Dukung Fasilitas Pembiayaan Sosial Senilai 275 Miliar

10 Desember 2022 - 08:15 WIB

Citi Bank Home Credit
Trending di Ekonomi